Sedekah Membuka Pintu Hidayah
Keutamaan sedekah sungguh sangat banyak sekali dan luar biasa. Mulai dari memperpanjang umur, membuat harta berkah dan bertambah, mencegah musibah hingga menunda kematian. Namun ternyata tidak hanya itu, sedekah dapat pula membuka pintu hidayah seseorang. Hal ini dapat kita simak dari cerita berikut ini.
Sebut saja namanya dengan Amir. Dahulu Amir ini adalah seorang yang gemar melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan juga dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang kikir, meskipun memiliki kekayaan dibandingkan dengan warga yang lain. Namun setelah ia bertobat dan insaf, shalat lima waktu tidak pernah ditinggalkan dengan berjamaah di masjid. Dia juga rajin ikut pengajian yang diadakan di masjid tersebut. Malam itu, seperti biasa sang ustadz memberikan tausiyah bagi jamaah. Tausiyah kali ini adalah tentang keutamaan shadaqah atau sedekah. Sang ustadz menjelaskan jika kita memiliki harta 1000 dirham kemudian 300 dirham kita sedekahkan, maka yang 300 dirham itulah yang sesungguhnya kekal dan akan dinikmati di akhirat nanti. Bahkan yang 300 dirham itu dapat bertambah karena Allah akan melipatgandakan sebanyak tujuh ratus kali. Selain itu, harta yang dimiliki pun akan dipenuhi dengan keberkahan.
Setelah mendengar tausiyah dari pengajian malam itu, Amir berniat untuk mensedekahkan sebagian hartanya guna mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah Swt.
Dengan hati yang tulus dan niat yang sangat kuat untuk mengeluarkan sedekah, malam itu ia keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, ia mengetuk pintu. Seseorang lantas muncul dari dalam rumah. Setelah Amir mengucapkan salam lantas menyerahkan kantong yang berisi 100 dirham tersebut kepada pemilik rumah, tanpa berpanjang lebar ia pamit. Peristiwa tersebut didengar oleh warga dan warga pun merasa terheran-heran, bahkan ada yang mengejek bahwa Amir ini telah salah sasaran dalam mengeluarkan sedekah. Karena ternyata yang diberikan sedekah itu adalah seorang pencuri.
Perbincangan warga setempat sampailah ke telinga si Amir, ia hanya berujar dalam hati, “ Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pencuri.”
Hari berikutnya, ketika malam tiba, seperti biasa Amir keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham untuk disedekahkan. Rumah yang dia pilih kali ini adalah rumah yang berada di pinggiran kota. Setelah ia memilih rumah tersebut, kemudian ia mengetuk pintu. Keluarlah pemiliki rumah yang ternyata seorang wanita. Setelah mengucapkan salam ia menyerahkan sedekahnya tersebut dan langsung pergi.
Berita ini kemudian sampai lagi ke telinga warga dan menjadi pembicaraan yang hangat di antara warga tersebut. Para warga mengatakan dengan nada yang agak sinis, “Meskipun rajin ke masjid tapi sedekah yang dikeluarkan kok salah sasaran terus, tempo hari memberikan kepada pencuri, sekarang memberikan kepada pelacur, sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh si Amir ini.”
Tatkala obrolan warga ini sampai ke telinganya, Amir hanya mengucapkan “Alhamdulillah telah bersedekah kepada seorang pelacur.”
Malam harinya, Amir kembali keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham, seperti yang sudah-sudah. Ia menuju rumah yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Setelah memberikan sedekahnya ia lantas pulang dengan harapan sedekahnya kali ini tidak salah sasaran.
Namun pagi harinya warga kembali mengomentari sedekah yang diberikan oleh Amir. Mereka mengatakan bahwa apa yang Amir sedekahkan lagi-lagi salah sasaran. “Kemarin bersedekah untuk pelacur, tempo hari sedekah diberikan kepada si pencuri, semalam dia bersedekah untuk orang kaya padahal orang yang miskin yang membutuhkan uluran tangannya cukup banyak di sekitarnya, orang yang aneh.” Ungkap warga.
Amir mendengar kembali apa yang warga bicarakan mengenai sedekah yang ia keluarkan. Setelah mendengar pembicaraan dan komentar warga yang cukup sinis, Amir hanya berucap Alhamdulillah aku telah bersedekah kepada orang kaya, pelacur dan pencuri.
Malam harinya, Amir melaksanakan shalat tahajjud, setelah melaksanakan tahajjud Amir terlelap tidur. Ketika tidur, Amir bermimpi ia didatangi oleh seseorang yang memberikan informasi bahwa sedekah yang telah ia berikan kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf dan tidak melakukan pencurian kembali. Sedekah yang ia berikan kepada pelacur, membuka pintu hidayah bagi wanita tersebut untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur dan bertobat kepada Allah Swt. Sedangkan sedekah yang ia berikan kepada orang yang kaya, ternyata orang kaya itu adalah orang yang pelit. Setelah menerima sedekah dari Amir, orang kaya tersebut mau mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Sedekah yang ia keluarkan diterima oleh Allah Swt, karena Amir ikhlas dalam mengeluarkan sedekah tersebut.
Dengan kejadian tersebut, Amir semakin banyak mengerjakan kebaikan dan semakin khusyuk dalam beribadah. Dia menyadari bahwa yang terpenting dalam mengerjakan amal ibadah adalah niat yang tulus dan ikhlas karena Allah Swt semata, bukan karena perkataan orang banyak. Dan apa yang telah dilakukan oleh Amir semakin membuktikan kekuatan sedekah, bahwa sedekah dapat membuka pintu hidayah. (Zarksih,www.pkesinteraktif.com)
Sebut saja namanya dengan Amir. Dahulu Amir ini adalah seorang yang gemar melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan juga dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang kikir, meskipun memiliki kekayaan dibandingkan dengan warga yang lain. Namun setelah ia bertobat dan insaf, shalat lima waktu tidak pernah ditinggalkan dengan berjamaah di masjid. Dia juga rajin ikut pengajian yang diadakan di masjid tersebut. Malam itu, seperti biasa sang ustadz memberikan tausiyah bagi jamaah. Tausiyah kali ini adalah tentang keutamaan shadaqah atau sedekah. Sang ustadz menjelaskan jika kita memiliki harta 1000 dirham kemudian 300 dirham kita sedekahkan, maka yang 300 dirham itulah yang sesungguhnya kekal dan akan dinikmati di akhirat nanti. Bahkan yang 300 dirham itu dapat bertambah karena Allah akan melipatgandakan sebanyak tujuh ratus kali. Selain itu, harta yang dimiliki pun akan dipenuhi dengan keberkahan.
Setelah mendengar tausiyah dari pengajian malam itu, Amir berniat untuk mensedekahkan sebagian hartanya guna mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah Swt.
Dengan hati yang tulus dan niat yang sangat kuat untuk mengeluarkan sedekah, malam itu ia keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, ia mengetuk pintu. Seseorang lantas muncul dari dalam rumah. Setelah Amir mengucapkan salam lantas menyerahkan kantong yang berisi 100 dirham tersebut kepada pemilik rumah, tanpa berpanjang lebar ia pamit. Peristiwa tersebut didengar oleh warga dan warga pun merasa terheran-heran, bahkan ada yang mengejek bahwa Amir ini telah salah sasaran dalam mengeluarkan sedekah. Karena ternyata yang diberikan sedekah itu adalah seorang pencuri.
Perbincangan warga setempat sampailah ke telinga si Amir, ia hanya berujar dalam hati, “ Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pencuri.”
Hari berikutnya, ketika malam tiba, seperti biasa Amir keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham untuk disedekahkan. Rumah yang dia pilih kali ini adalah rumah yang berada di pinggiran kota. Setelah ia memilih rumah tersebut, kemudian ia mengetuk pintu. Keluarlah pemiliki rumah yang ternyata seorang wanita. Setelah mengucapkan salam ia menyerahkan sedekahnya tersebut dan langsung pergi.
Berita ini kemudian sampai lagi ke telinga warga dan menjadi pembicaraan yang hangat di antara warga tersebut. Para warga mengatakan dengan nada yang agak sinis, “Meskipun rajin ke masjid tapi sedekah yang dikeluarkan kok salah sasaran terus, tempo hari memberikan kepada pencuri, sekarang memberikan kepada pelacur, sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh si Amir ini.”
Tatkala obrolan warga ini sampai ke telinganya, Amir hanya mengucapkan “Alhamdulillah telah bersedekah kepada seorang pelacur.”
Malam harinya, Amir kembali keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham, seperti yang sudah-sudah. Ia menuju rumah yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Setelah memberikan sedekahnya ia lantas pulang dengan harapan sedekahnya kali ini tidak salah sasaran.
Namun pagi harinya warga kembali mengomentari sedekah yang diberikan oleh Amir. Mereka mengatakan bahwa apa yang Amir sedekahkan lagi-lagi salah sasaran. “Kemarin bersedekah untuk pelacur, tempo hari sedekah diberikan kepada si pencuri, semalam dia bersedekah untuk orang kaya padahal orang yang miskin yang membutuhkan uluran tangannya cukup banyak di sekitarnya, orang yang aneh.” Ungkap warga.
Amir mendengar kembali apa yang warga bicarakan mengenai sedekah yang ia keluarkan. Setelah mendengar pembicaraan dan komentar warga yang cukup sinis, Amir hanya berucap Alhamdulillah aku telah bersedekah kepada orang kaya, pelacur dan pencuri.
Malam harinya, Amir melaksanakan shalat tahajjud, setelah melaksanakan tahajjud Amir terlelap tidur. Ketika tidur, Amir bermimpi ia didatangi oleh seseorang yang memberikan informasi bahwa sedekah yang telah ia berikan kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf dan tidak melakukan pencurian kembali. Sedekah yang ia berikan kepada pelacur, membuka pintu hidayah bagi wanita tersebut untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur dan bertobat kepada Allah Swt. Sedangkan sedekah yang ia berikan kepada orang yang kaya, ternyata orang kaya itu adalah orang yang pelit. Setelah menerima sedekah dari Amir, orang kaya tersebut mau mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Sedekah yang ia keluarkan diterima oleh Allah Swt, karena Amir ikhlas dalam mengeluarkan sedekah tersebut.
Dengan kejadian tersebut, Amir semakin banyak mengerjakan kebaikan dan semakin khusyuk dalam beribadah. Dia menyadari bahwa yang terpenting dalam mengerjakan amal ibadah adalah niat yang tulus dan ikhlas karena Allah Swt semata, bukan karena perkataan orang banyak. Dan apa yang telah dilakukan oleh Amir semakin membuktikan kekuatan sedekah, bahwa sedekah dapat membuka pintu hidayah. (Zarksih,www.pkesinteraktif.com)
Komentar