Selasa, 09 September 2008

Buku Gratis Untuk Pengurus Masjid

Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah dalam rangka Bulan Ramadhan 1429 H, ingin memberikan WAKAF BUKU kepada masjid-masjid di Jabodetabek.

Buku tersebut antara lain buku Khutbah Jumat Ekonomi Syariah (terbitan Agustus 2008) yang berisi tentang materi-materi khutbah jumat dengan materi ekonomi syariah, dan buku Materi Dakwah Untuk Ekonomi Syariah (terbitan Agustus 2008) yang berisi mengenai bahan rujukan dakwah tentang ekonomi syariah untuk para Mubaligh diseluruh Jabodetabek.
Setiap masjid akan mendapatkan 3 paket buku (buku khutbah dan buku materi dakwah). Buku tersebut bisa diambil di sekretariat kami (Gd. Arthaloka Gf.05, Jl. Jend. Sudirman, Kav 2, Jakarta Pusat) dengan membawa surat pengantar dari Masjid yang bersangkutan.


Wassalam

M. Nadratuzzaman Hosen
Direktur Eksekutif PKES
lihat juga www.pkesinteraktif.com

Senin, 08 September 2008

Tiga Lelaki Berjiwa Malaikat

Malam Hari Raya Idul Fithri telah tiba. Kota Damaskus terang benderang oleh cahaya lampu beraneka warna. Takbir bergemuruh terdengar membahana.

Dalam sebuah rumah yang sederhana, seorang wanita berjilbab putih, berkata kepada suaminya, ”Abu Abdillah suamiku, besok hari raya. Anak kita tidak memiliki pakaian baru seperti anak-anak tetangga lainnya. Ini semua disebabkan tindakan borosmu!”

”Aku tidak boros, aku hanya menginfakkan hartaku dalam kebaikan dan demi membantu orang-orang miskin yang membutuhkan. Ini bukan suatu pemborosan, Ummu Abdillah, ”jawab sang suami.

”Baiklah, kumohon sekarang, tulislah surat dan kirim kepada salah seorang sahabatmu yang baik dan ikhlas, agar mereka menyisihkan sebagian hartanya kepada kita. Jika keadaan kita membaik, insya Allah akan kita ganti.”

Abu Abdillah memiliki dua teman karib yang berhati ikhlas. Mereka bernama Hamdi dan Usamah. Mendengar permintaan istrinya itu, dia segera menulis surat. Lalu, dia memberikan surat itu kepada pembantunya agar membawanya ke tempat sahabatnya, Hamdi. Kemudian, pembantunya itu pergi ke tempat hamdi dan menyerahkan surat yang ditulis oleh tuannya.

Hamdi membacanya dengan seksama. Dia segera tahu bahwa sahabatnya yang pemurah sedang dalam kesempitan dan kesusahan karena tidak memiliki apa-apa.

Hamdi berkata kepada utusan Abu Abdillah, ”Aku tahu tuanmu telah menginfakkan semua hartanya dalam kebaikan. Ambillah kantong ini dan katakan kepada tuanmu, hanya inilah harta yang aku miliki pada malam hari raya ini.”

Pembantu Abu Abdillah bergegas kembali kepada tuannya dan menyerahkan kantong pemberian Hamdi itu. Abu Abdillah membuka kantong itu. Ternyata, isinya uang seratus dinar.

Dia berkata kepada istrinya dengan penuh gembira, ”Ummu Abdillah, lihat ini, Allah telah mengantarkan seratus dinar kepada kita.”

Sang istri pun gembira dan berkata pada suaminya, ”Cepatlah pergi ke pasar untuk membelikan pakaian dan sandal baru untuk anak-anak kita. Juga jangan lupa membeli daging dan makanan.”

Pada saat Abu Abdillah bersiap-siap hendak pergi ke pasar, terdengar seseorang mengetuk pintu. Abu Abdillah membuka pintu. Ternyata, yang datang adalah pembantu Usamah, sahabatnya. Pembantu Usamah itu datang dengan membawa surat minta pertolongan kepada Abu Abdillah agar dia berkenan meminjami uang untuk membayar hutang yang telah jatuh tempo. Tanpa berpikir panjang, Abu Abdillah langsung menyerahkan kantong berisi uang seratus dinar yang ada di tangannya, kepada pembantu Usamah. Dia menyerahkan semuanya, tanpa mengambil satu dinarpun.

”Katakan pada Usamah, tuanmu. Segera lunasi hutangnya malam ini juga,” pesan Abu Abdillah pada pembantu itu.

Mengetahui hal itu, terang saja Ummu Abdillah marah kepada Abu Abdillah yang lebih mementingkan sahabatnya daripada anak-anaknya.

”Kau ini tega melihat anak kita bersedih dan kelaparan. Kalau pun kau mau membantu Usamah, mengapa tidak setengah dari uang itu saja? Mengapa kau berikan semuanya?” ucap Ummu Abdillah sewot.

Sang suami menjawab, ”Temanku meminta pertolonganku, bagaimana mungkin aku tidak memberinya? Aku juga tidak tahu apakah uang di dalam kantong itu cukup untuk melunasi hutangnya, atau tidak?”

Ummu Abdillah terdiam dan beristighfar untuk meredam kejengkelannya kepada sang suaminya yang terlalu baik kepada orang lain itu.

Beberapa jam kemudian, terdengar orang mengetuk pintu. Abu Abdillah membuka pintu. Dia kaget bukan kepalang. Ternyata, yang datang adalah sahabatnya, Hamdi. Serta merta dia memeluk dan menyambut dengan hangat, lalu mempersilahkannya masuk.

Setelah duduk, Hamdi berkata, ”Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang kantong ini. Apakah ini kantong yang aku kirim kepadamu dan di dalamnya ada seratus dinar?”

Abu Abdillah mengamati kantong itu penuh seksama.

Dengan nada kaget, dia berkata, ”Ya...ya...benar...ini adalah kantong itu. Ceritakanlah kepadaku, Hamdi, bagaimana kantong ini bisa kembali lagi kepadamu?”

Hamdi lalu bercerita, ”Ketika pembantumu datang kepadaku membawa suratmu. Aku berikan kantong itu, dan itu adalah satu-satunya harta yang aku punya. Karena aku tidak punya apa-apa lagi, maka aku langsung minta bantuan pada Usamah. Betapa terkejutnya aku ketika Usamah memberikan kantong berisi seratus dinar, yang tidak lain adalah kantong yang aku kirimkan kepadamu tanpa kurang satu dinar pun. Aku takjub, untuk lebih yakin, aku bertanya padamu, benarkah ini kantong yang aku kirimkan kepadamu? Untuk itu, aku datang ke sini untuk menguak rahasia ini.”

Abu Abdillah tertawa dan berkata, ”usamah lebih mengutamakan kamu daripada dirinya, dan memberikan kantong itu, sebagaimana kamu lebih mengutamakan diriku daripada dirimu sendiri, Hamdi.”

”Dan kamu lebih mengutamakan Usamah atas dirimu dan keluargamu. Apa pendapatmu, Abu Abdillah, jika kita bagi uang ini bertiga?” kata Hamdi sambil tersenyum.

Abu Abdillah menjawab, ”Barakallahu fika, semoga Allah memberkahimu, Hamdi.”

Akhirnya, uang seratus dinar itu dibagi tiga.

Kisah keluhuran budi tiga lelaki ini, didengar oleh Khalifah. Subahanallah, sang Khalifah pun sangat tersentuh ketika mendengarnya. Ternyata, masih ada di antara umat Nabi Muhammad Saw yang berjiwa mulia, laksana malaikat. Khalifah langsung memberi perintah kepada bendahara negara untuk memberi hadiah kepada tiga lelaki berjiwa malaikat itu, masing-masing sebesar sepuluh ribu dinar.

Begitu menerima uang dari Khalifah, Abu Abdillah langsung sujud syukur lalu menemui istrinya dengan muka berseri-seri, ”Ummi Abdillah, sekarang lihatlah, apa pendpatmu, apakah Allah menelantarkan kita?”

Sang istri menjawab dengan mata berkaca-kaca. ”Tidak suamiku. Demi Allah, Dia Maha Pemurah, Dia tidak mungkin menelantarkan kita. Bahkan, Dialah yang melimpahkan rezeki-Nya kepada kita, dengan tiada putusnya.”

”Sekarang kau tahu, istriku...bahwa menginfakkan harta di jalan Allah adalah bisnis yang pasti keuntungannya dan tidak akan rugi selamanya.”

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga

lihat juga di www.pkesinteraktif.com

Ramadhan Tiba, Saatnya Ngalap Pahala, Berkah, Rahmat, dan Maghfirah Allah Swt

Oleh: Zarkasih

Hari ini umat Islam Indonesia dan dunia menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan sukacita. Bulan suci yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya. Karena hanya hadir selama sebulan dalam setiap tahunnya. Bersukacita karena masih diberi kesempatan oleh Allah Swt mencicipi kenikmatan yang terkandung dalam bulan Ramadhan. Nabi bersabda:

“Siapa saja yang senang dengan kedatangan bulan suci Ramadhan Allah haramkan jasadnya atas api neraka”. Kegembiraan ini bukan hanya sebatas bergembira saja, tetapi bergembira melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan suci Ramadhan.

Allah Swt juga memberikan janji akan memberikan label takwa bagi pelaksana ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian puasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”

Dalam ayat ini, pengharapan Allah Swt kepada hamba-Nya adalah agar menjadi orang yang bertakwa dengan menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

Sebenarnya, Allah telah memberikan kemudahan bagi siapa saja yang melaksanakan ibadah puasa. Sebagaimana diketahui dalam sebuah hadits bahwa Allah Swt dalam bulan Ramadhan memerintahkan kepada malaikat Jibril agar membelenggu segenap setan yang biasa membujuk dan merayu manusia untuk berbuat maksiat dan dibuang ke laut, dengan tujuan agar tidak mengganggu puasa umat Muhammad Saw.

Begitu sayangnya Allah Swt terhadap hamba-Nya yang melaksanakan iabadah puasa. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa masih ada orang yang tidak berpuasa, melakukan korupsi, atau kemaksiatan lainnya padahal setan yang menggoda telah dibelenggu. Ini berarti mereka yang masih melaksanakan kemaksiatan di bulan suci Ramadhan telah sukses dibina oleh setan dan setan telah sukses melatih mereka. Sehingga, ketika setan tidak hadirpun mereka masih melaksanakan maksiat.

Selain membelenggu setan, Allah Swt memerintahkan kepada malaikat Ridhwan, “Ya Ridhwan, bukalah pintu- surga untuk umat Muhammad yang berpuasa.” Dan kepada malaikat Malik, “Ya Malik tutuplah pintu-pintu neraka jahim dari umat Muhammad yang berpuasa.”

Setiap malam Ramadhan Allah berseru tiga kali, ‘Siapa saja yang bermohon, Aku kabulkan permohonannya. Siapa saja yang bertaubat, Aku kabulkan taubatnya. Siapa yang memohon ampun, Aku ampuni. Begitu besar pemberian Allah swt kepada siapa saja hamba-Nya yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Begitupula dengan amalan-amalan hamba-Nya yang dilaksanakan di bulan suci Ramadhan. Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda. Pahala yang tiada tara. Sesuai dengan janjinya, “ibadah puasa itu untuk-Ku, dan aku yang akan memberikan ganjarannya.” Jadi, ibadah puasa Ramadhan pahalanya Allahlah yang menentukan, karena begitu sayangnya Allah Swt kepada hamba-nya yang berpuasa. Selama siang dan malam di bulan suci Ramadhan, setiap amal kebaikan yang dilaksanakan pahalanya terus bertambah, sepanjang tidak melaksanakan perbuatan dosa.

Akan tetapi, bagi yang melaksanakan ibadah puasa agar berhati-hati karena nabi pernah bersabda bahwa banyak orang yang melaksanakan puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Maka, harus dijaga agar pahala yang besar di bulan suci Ramadhan dapat kita raih. Yang membatalkan pahala puasa ini ada lima perkara, yaitu, membicarakan aib orang, berkata bohong, namimah (adu domba), sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat. Empat dari mulut, satunya dari mata.

Orang yang sedang berpuasa harus menjaga seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan yang tidak disukai oleh Allah Swt. Agar puasa kita tidak sia-sia. Agar pahala yang telah disebar oleh Allah Swt sebanyak-banyaknya di bulan ini dapat kita raih. Maka dari itu, untuk menghindarinya selain melaksanakan puasa, ialah dengan melaksanakan shalat tarawih dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Nah, kesempatan untuk menggapai pahala, rahmat, berkah, serta ampunan dari Allah Swt telah hadir di hadapan kita. Kesempatan emas ini harus diraih dengan sebaik-baiknya. Karena belum tentu kita dapat bertemu kembali dengan bulan yang agung dan suci ini, bulan yang sangat penuh dengan pahala dan ampunan Allah Swt. Karena kita semua tidak tahu apakah umur kita akan sampai dibulan Ramadhan yang akan datang. Wallaahu ‘Alam.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan

lihat juga di www.pkesinteraktif.com